Niang Pindah ke Watford Bukan Karena Montella

Niang Milan to watford, AC Milan, watford, Mbaye Niang,Walter Mazzarri,  Vincenzo Montella
Niang Milan to watford

M’Baye Niang merupakan pemain sayap asal AC Milan belum lama ini meluruskan kabar yang beredar bahwa dirinya tidak mempunyai masalah dengan pelatihnya, Vincenzo Montella. Hal ini ia klarifikasi meningat kabar diluaran yang mengatakan bahwa dirinya sering dikritik oleh pelatihnya dan memiliki sikap yang tak tepat.

Niang, direkrut pada tahun 2012 namun tercatat sudah tiga kali ia dipinjamkan ke klub lain. Pada Januari 2014 ia dipinjamkan ke Montpellier HSC, dan setahun kemudian Ia dipinjamkan ke Genoa. Setelah Ia sempat bermain bersama Milan di musim 2015-16 dan belum lama ini dia secara resmi ia dipinjamkan ke Liga Inggris, untuk membela Watford.

Perpecahan antara pemain dan pelatih Milan mun disebut sebut membuat Niang dicoret dari tim inti dan akhirnya Ia dipinjamkan ke Watford dengan nilai pinjaman 750ribu euro untuk mendapatkan tanda tangan pemain Prancis tersebut mereka harus menebus dengan nilai 18 juta euro.

Namun sang pemain menepis bahwa Ia pindah karena tak harmonis dengan sang pelatih. Ia lebih tertarik pindah karena pelatih Watford yaitu Walter Mazzarri dan beberapa pemain lainnya yang membuatnya semangat untuk bermain dan bekerja sama dengan mereka.

Ia mengatakan kepada WatfordFC, “Saya sangat senang untuk datang ke sini. Bagi saya, pelatih sangat penting dalam menentukan pilihan saya. Saya ingin memainkan pertandingan yang sangat baik dengan jersey ini,”.

Ia juga  menambahkan, “Fans dan antusiasme klub ini sangat penting. Saya tahu pemain yang ada disini, seperti Stefano Okaka dan Roberto Pereyra, mereka adalah pemain yang sangat bagus dan saya sangat bersemangat untuk bermain dengan mereka,”.

Niang pun sempat mengungkapkan rasa terimakasi kepada pelatih lamanya di Milan. Ia mengatakan  “Saya berterima kasih kepada Milan dan pelatih, karena dia memiliki banyak kepercayaan dalam diri saya, seperti semua staf yang lain. Hubungan yang terputus, tapi sekarang saya punya tantangan lain dan berharap untuk melakukannya dengan baik. Tidak ada yang retak, segalanya pergi begitu saja. Saya berharap pelatih dapat yang terbaik karena dia melakukan hal-hal besar,”.

Pelatih Arsenal Senang Jika Xakha Tak Melakukan Tekel Lagi

Tackle Granit Xhaka, Granit Xhaka Red Card, Tackle Granit Xhaka Arsenal, Arsenal, Arsene Wenger, Martin Keown, Premier League, Liga Inggris
Tekel Granit Xhaka

Martin Keown yang merupakan salah satu legenda dari Arsenal, baru baru ini mengungkapkan harapannya tentang salah satu pemain Arsenal yang baru bergabung pada musim ini yaitu Granit Xhaka. Ia meminta sang pemain untuk dapat mengatur ulang mentalnya karena sering membuat teknik yang salah terutama dalam melakukan tekel sehingga membahayakan lawan dan dirinya. Belum lagi kartu merah yang didapatnya akan merugikan timnya saat bertanding.

Sang pemain yang direkrut dari Borussia Mönchengladbach ini sudah dua kali mendapatkan kartu merah saat ia membela Arsenal dimusim ini dan terakhir saat Arsenal menghadapi Burnley, dan untungnya mereka masih mampu memenangkan pertandingan.

Keown kemudian meneliti teknik tekel pemain bernomor punggung 29 itu dan menemukan ada yang salah dari mental dan teknik yang bersangkutan. Ia menjelaskan kepada The Mirror, “Jika anda tidak bisa mencapai titik yang diinginkan untuk melepas tekel, maka anda harus memperlambat pemain lawan. Anda harus mengikutinya dan terus berlari dengannya di sepanjang lapangan,”.

Ia menambahkan “Ketika bola dalam posisi yang bagus, dia harus coba merebutnya. Namun dengan dua kartu merah di Arsenal musim ini, Xhaka tak punya kans merebut bola dan dia hanya menebas lawannya. Jika anda menggunakan dua kaki, anda keluar lapangan.”

Sang Legenda pun memberikan solusinya juga, “Xhaka harus memperbaiki mental tersebut. Dia harus berlatih dalam situasi satu lawan satu, ketika pemain berlari ke arahnya, jadi dia bisa belajar bagaimana untuk memperlambat mereka, sebelum melepas tekel.”.

Sebagai pelatihnya , Arsene Wenger juga mengakui bahwa dirinya cenderung cemas mengenai teknik tekel yang dimiliki Granit Xhaka. Bahkan Ia sempat mengungkapkan dirinya akan lebih menyukai jika pemain gelandang andalannya tak melakukan tekel lagi dalam upaya mencuri bola.

Wenger mengatakan “Saya memiliki kekhawatiran tentang teknik tekelnya. Saya pikir dia bukan seorang penekel alami yang besar, dan dalam pengambilan keputusannya dia cukup cerdas di atas lapangan. Tapi ini lebih pada cara melakukan tekel yang tak benar-benar meyakinkan. Dia tak menguasai dengan baik teknik melakukan tekel,”.

Ia menambahkan, “Saya akan lebih senang untuk mendorongnya untuk tak melakukan tekel, untuk mempertahankan kakinya, dna itu cara terbaik mengatasi ini. Tekel adalah teknik yang anda pelajari dari usia muda. Anda bisa meningkatkannya, tapi saat anda berhadapan satu lawan satu dengan seseorang, ini lebih baik bagi anda tetap terjaga,”.

Jika Costa Berulah, Chelsea Ganti Dengan Belotti

Diego costa Chelsea, Diego costa, Chelsea, antonio conte, Ian Wright, Andrea Belotti
Diego Costa Chelsea

Mantan pemain Arsenal yang saat ini menjadi pengamat bola di acara televisi yaitu Ian Wright, sempat mengungkapkan bahwa penyerang Chelsea yaitu Diego Costa, akan mampu berpotensi untuk membuat ruang ganti Chelsea menjadi tak harmonis lagi.

Pemain lini depan yang bersinar saat ini di Chelsea sebelumnya memang dikabarkan akan pindah ke klub lain pada bursa transfer musim ini. Ia dikabarkan diam diam absen dari sesi latihan untuk dapat bernegosiasi dengan klub tersebut dan berujung kepada perseteruan dengan pelatihnya Antonio Conte.. Namun belum lama ini keadaan sudah mulai membaik dan kembali normal.

Namun Wright mengatakan seandainya sang pemain mengatakan pada semua orang di klub bahwa ia akan pergi, maka itu akan memberikan efek negatif di ruang ganti nantinya. Ia mengatakan kepada BBC, “Saya pikir dia akan membuat ruang ganti tidak stabil. Jika dia berdiri dan berkata ‘saya akan pergi’, maka dia akan membuat ruang ganti tidak stabil,”.

Namun Ia setuju atas aksi Costa yang telah menebus kesalahannya dengan menyumbangkan lebih banyak gol. Seperti pertandingan melawan Hull City, Ia membantu Chelsea tetap unggul delapan poin dengan runner up minggu ini. Dan Ia telah mencatatkan gol yang ke 15 dimusim ini. Ia menambahkan, “Ini tentang rasa percaya diri, keyakinan terhadap kemampuan anda. Dia bermain melawan Hull dan menggilas mereka. Faktanya adalah, dia bermain lagi dan dia membungkam semua orang.”.

Namun sepertinya Chelsea juga sudah siap mengambil ancang ancang jika seandainya Diego Costa berulah kembali dan juga kemungkinan sang pemain menghentikan langkahnya di Chelsea. Merka sudah memiliki pemain yang dianggap mampu menggantikan seorang Costa.

Seperti yang dilansir oleh TMW, sang pelatih Chelsea sudahmembidik di bursa transfer ke negeri spageti, Liga Serie A. Ia dikabarkan tertarik dengan pemain bintang dari Torino yaitu Andrea Belotti. Bahkan dikabarkan Chesea akan siap menyodorkan proposal kontrak setelah kompetisi musim ini berakhir walaupun Belotti sendiri saat ini masih memiliki kontrak yang mengharuskan klub yang ingin mengambil alih merogoh kocek senilai 100 juta euro.

Gol Damatis Long Pastikan Soton Ke Final EFL Cup

Shane Long scored Liverpool vs Southampton EFL 2016-2017, Shane Long scored, Liverpool vs Southampton EFL 2016-2017, Shane Long, Liverpool vs Southampton, EFL 2016-2017, Shane Long Southampton,, Premier league, Liga inggris
Shane Long Jebol Gawang Karius

Shane Long sebagai salah satu pemain lini depan Southampton saat ini merasa sangat gembira terutama setelah berhasil menaklukan salah satu raksasa Premier League yaitu Liverpool dalam ajang kompetisi English Football League Cup (EFL Cup) . Mereka berhasil secara dramatis menaklukan tim yang diasuh Jurgen Klop dengan gol semata wayang di menjelang peluit babak kedua ditiup.

Pertandingan yang diadakan pada tanggal 26 Januari 2017dini hari tadi merupakan leg kedua Southampton untuk menghadapi Liverpool dalam perebutan tiket menuju final. Dan hasilnya cukup menggembirakan untuk klub yang berada di peringkat ke 11 kompetisi Premier League.

Sebelumnya di Leg pertama, Southampton (Soton), mampu mengungguli Liverpool dengan skor 1-0. Pertandingan yang diselenggarakan di Saint Mary’s Stadium itu menjadi saksi gol dari Nathan Redmond di menit ke 20 tanpa bisa dibalas oleh The Reds.

Dan pagi dini hari tadi mereka juga kembali menekuk Liverpool dengan skor yang sama, namun lebih dramatis karena terjadi di menit ke 90 +1. Long menjadi pahlawan hari ini setelah Loris Karius tak bisa menghalangi tembakan tersebut.

Dan dengan demikian Soton telah berhasil untuk lolos ke babak final dengan agregat 2-0 dimana Manchester United sudah menunggu mereka untuk pertandingan berikutnya satu bulan lagi pada tanggal 26 Februari 2016.

Setelah berhasil membawa timnya menuju Final Long sempat menrasa emosional mengingat perjuangannya hingga saat ini akan menjadi kebahagiaan yang bukan hanya untuk tim namun sangat berarti untuk para pendukungnya..

Ia mengatakan “Ini sungguh menakjubkan. Mendapatkan kemenangan di menit akhir dan tahu itu cukup untuk membuat kami melalui ini dengan beberapa menit lagi untuk bertahan. Ini perasaan yang luar biasa di depan pendukung kami sendiri dan ada kerja keras atas hasil ini. Ini sedikit melegakan tapi kami hanya gembira pada akhirnya,”.

Ia pun melanjutkan, “Ini sesuatu yang masif bagi klub seperti Southampton untuk pergi ke final. Ini sudah menjadi mengecewakan di liga dan di Eropa, jadi untuk memberi fans sesuatu yang pantas mereka dapatkan, adalah hari berkunjung ke Wembley dan semoga sebuah gelar pada akhirnya,”.

Lamela Tak Ke Roma, Kane Tak ke Shanghai

Harry Kane-Erik Lamela Tottenham Hotspurs, Harry Kane-Erik Lamela, Tottenham Hotspurs, Harry Kane, Erik Lamela Tottenham Hotspurs, Harry Kane Tottenham Hotspurs, Erik Lamela , premier league, liga inggris
Kane dan Lamela Tottenham Hotspurs

Pemain sayap yang terkadang menjadi gelandang serang Tottenham Hotspurs yaitu Erik Lamela belum lama ini menepis tentang kabar yang mengaitkannya dengan AS Roma. Sebelumnya dikabarkan bahwa tim merah kuning dari Italia itu akan mendapatkan tanda tangannya pada bursa transfer musim dingin ini.

Sang pemain asal Argentina ini tahun itu memang sudah absen membela klubnya sejak bulan Oktober 2016 lalu. Hal ini dikarenakan Ia mengalami cedera otot dan saat ini ia masih dalam tahap penyembuhan dan tinggal Roma untuk sementara waktu.

Namun banyak media yang berspekulasi bahwa pemain berusia 24 tahun itu akan direkrut lagi oleh klub lamanya sebelum Ia pindah ke Tottenham yaitu AS Roma. Bersama Roma dari 2011 sampai 2013, Ia mencatatkan prestasi yang cukup bagus. Ia mampu menghasilkan 19 gol dari 62 kali pertandingan yang diikutinya dengan seragam merah kuning.

Lamela pun mengklarifikasi kabar yang beredar itu tidak benar. Ia pun mengatakan, “Agar semuanya menjadi jelas, Saya berada di Roma untuk penyembuhan cedera dan tidak ada hal lain yang masih berhubungan dengan sepak bola,”.

Di Tottenham, sang pemain bernomor punggung 11 itu menjadi salah satu pemain favorit dan sering menjadi starter oleh Maurichio Pochettino, pelatih Tottenham. Dan setelah kedatangan Pochettino, penampilan sang pemain di Tottenham bertambah  cemerlang.

Selain Lamela, striker andalan Tottenham pun turut  menjadi sasaran kabar bunung para awak media. Kali ini ia dikabarkan akan pergi dari klubnya untuk mendapatkan penghasilan lebih di negeri tirai bambu.

Ia dikabarkan akan direkrut oleh mantan pelatih Tottenham yaitu Andre Villas-Boas yang saat ini sedang melatih Shanghai SIPG. Namun pada akhirnya ia menepis hal tersebut. Pemain berkebangsaan Inggris itu lebih memilih untuk mengejar ambisinya dibandingkan mengejar gaji besar. Ia mengatakan  “Anda memiliki sebuah pilihan yang harus diambil antara uang atau mengikuti ambisi Anda, bermain di liga terbaik dunia dan memenangkan gelar juara,”.

Memang pada tanggal 1 Desember 2016, Kane telah telah memperbaharui kontraknya bersama Tottenham dengan bersama dengan gaji yang sangat besar sekitar gaji senilai 120 ribu pounds setiap pekan dan Ia akan tetap bertahan membela Tottenham hingga musim 2021-2022.Selain itu dengan timnya saat ini Ia dipercaya akan terus rajin dalam menyumbangkan gol dibanding tahun tahun sebelumnya.

Martial Tak Diizinkan Main Namun Tak Diizinkan Pindah

Anthony Martial dan Jose Mourinho manchester united, Anthony Martial dan Jose Mourinho, manchester united, Anthony Martial, Jose Mourinho manchester united, Anthony Martial manchester united, Jose Mourinho , PREMIER LEAGUE, LIGA INGGRIS
Martial dan Mourinho

Beberapa hari yang lalu pelatih Manchester United yaitu Jose Mourinho memperingatkan kepada Anthony Martial bahwa dirinya tak terlalu menyukai dengan performa striker bernomor punggung 11 ditimnya. Hal ini berimbas dengan dicoretnya nama sang pemain dari pertandingan belakangan ini.

Hal ini bukan karena Mourinho memiliki masalah pribadi dengan sang pemain ataupun permainan yang diampilkan Martial sangat tidak bagaus, namun seandainya ia terus memberikan kesempatan starter kepada pemain berkebangsaan Prancis itu maka Ia khawatir akan merugikan timnya saat ini dan menahan pemain lain yang sedang dalam penampilan terbaiknya.

Pemain yang direkrut dari tanggal 1 September 2015 lalu itu sempat menjadi starter pada pertandingan pekan sebelumnya saat MU menghadapi Liverpool pada tanggal 15 Januari 2017. Namun sayangnya Ia menunjukkan performa di bawah harapan dari sang pelatih dan akhirnya Ia tak dimainkan lagi saat setan mereh menghadapi Stoke City.

Sang pelatih mengungkapkan kepada Express, “Saya kira Martial tak kehilangan fokusnya. Saya hanya berpikir dia tidak memanfaatkan dengan baik kesempatan yang ia punya. Memphis Depay dijual karena kami punya banyak pemain di posisinya. Dan sekarang masih ada lima pemain di posisi yang sama. Saya tak bisa memberi kesempatan pada satu pemain dan membunuh pemain lainnya. Kenyataannya, kami punya Rashford, Lingard, Mata, Mkhitaryan, dan Martial. Saya tak bisa memberikan kesempatan tanpa tak memikirkan usaha pemain lainnya.”

Mourinho juga tak mempersalahkan tentang kepergian pemain yang berusia 21 tahun tersebut untuk pulang ke negaranya sat ia mengetahui bahwa dirinya tidak dimainkan dalam pertandingan kemarin. Ia mengatakan “Kami tidak punya banyak hari libur. Saya ingin memberi kebebasan pada pemain ketika mereka tidak bermain. Jika memang dia ingin pergi ke Paris, itu tidak apa. De Gea mungkin takkan bermain di Piala FA, dan jika dia ingin ke Spanyol, dia boleh pergi.”.

Meskipun demikian sang pelatih tak ingin Martial pergi meninggalkan MU dalam waktu dekat terutama karena Ia dikabarkan akan dipinjamkan ke klub Liga Spanyol yaitu Sevilla.  Seperti yang dilansir oleh Express, Mourinho tak ingin untuk tidak kehilangan satu pemain kunci lagi di Januari ini setelah ia berhasil menjual Memphis Depay ke Lyon.

Namun seandainya sang pemain tidak dimainkan di klubnya dan tidak boleh diizinkan membuktikan dirinya di klub lain, tentunya sang pelatih akan membunuh pemain tersebut.

Sane Cemerlang, Bravo Tenggelam

Claudio bravo Leroy Sane manchester city, Claudio bravo Leroy Sane, manchester city, Claudio bravo, Leroy Sane manchester city, Claudio bravo manchester city, Leroy Sane, premier league, liga inggris, pep guardiola
Claudio Bravo – Leroy Sane

Leroy Sane yang merupakan pemain sayap dari Manchester City yang terkadang menjadi pemain gelandang serang klub tersebut, baru baru ini mengungkapkan bahwa dirinya semakin mengukuhkan hatinya untuk terus bermain secara maksimal di klub barunya.

Pemain muda beruia 21 tahun tersebut, direkrut oleh City dari salah satu klub yang bermain di Bundesliga yaitu FC Schalke 04, pada tanggal 2 Agustus 2016 dengan biaya tebusan sebesar 37 Juta Poundsterling.

Memang sang pemain asal Jerman tersebut memerlukan adaptasi yang luar biasa untuk dapat bermain di Liga Inggris terutama dalam mempelajari bahasa dan permainan dibawah asuhan Pep Guardiola.

Namun akhirnya Sane mampu menyumbangkan gol pertamanya untuk City pada pertandingan menghadapi Arsenal dalam ajang kompetisi Premier league Pekan ke 17. Dan akhirnya Ia mampu menambah koleksi golnya saat menghadapi Tottenham dalam kompetisi yang sama di pekan ke 22 kemarin.

Ia mengungkapkan kepada Mirror, “Saya jelas merasa semakin seperti berada di rumah (Jerman) karena di Manchester rekan-rekan saya seperti menyambut saya dengan baik. Saya mulai terbiasa dengan tempat dan klub ini. Setiap kali anda pindah, anda harus menyesuaikan diri, dan membiasakan diri dengan liga baru,”.

Sane pun menambahkan, “Saya merasa seperti di rumah sendiri di Manchester, dan masa depan sepertinya amat cerah di sini. Semuanya memang tak terlalu mulus di awal, namun saya lebih memilih untuk perlahan saja ketimbang terlalu buru-buru.”.

Nasibnya berbeda dengan rekannya yang berada diposisi sebagai penjaga gawang, yaitu Claudio Bravo. Ia sepertinya lebih kesulitan menjalani musim perdananya bersama Manchester City. Sang kiper berusia 33 tahun tersebut direkrut oleh City dari tangan Barcelona, dengan tebusan 17 Juta Poundsterling pada tanggal 25 Agustus 2016 lalu. Ia dipilih Guardiola setelah Joe Hart dipinjamkan ke Torino. Guardiola menanggap Hart belum memiliki kemampuan setaraf Bravo.

Namun sayangnya, Bravo tak menampilkan performa yang cukup baik terutama dalam kompetisi Premier League. Salah satu performa buruknya adalah saat ia kebobolan sebanyak empat kali dengan Everton pada dua pertandingan sebelumnya kemudian setelahnya Ia kebobolan dua kali menghadapi Tottenham.

Mungkin Bravo masih beradaptasi dengan lingkungan Inggris, namun yang jelas peformanya tak sebaik rekannya yang sama sama bergabung di City yaitu Sane.

Chelsea Berada Diperingkat Pertama Klasemen, Sampaoli Tak Menyesal Tak Memilih Chelsea

Jorge Sampaoli antonio conte chelsea, Jorge Sampaoli vs antonio conte, chelsea, Jorge Sampaoli chelsea, antonio conte, Jorge Sampaoli. antonio conte chelsea,  Premie league, liga inggris, sevilla, liga spanyol, la liga
Jorge Sampaoli – Antonio Conte

Pelatih Sevilla saat ini yaitu Jorge Sampaoli, sempat mengakui bahwa dirinya hampir saja menjadi pelatih Chelsea tahun lalu. Namun pada akhirnya Ia lebih memilih pindah ke klub liga Spanyol.

Sebelumnya, Chelsea sibuk mencari pengganti untuk dijadikan pelatih klubnya. Hal ini  dikarenakan pada musim tersebut dua pelatih ternama yaitu Jose Mourinho pada musim 2013–2015 dan Guus Hiddink pada musim 2015–2016, tak mampu mengangkat performa Chelsea untuk menjadi yang terbaik di Premier League.

Akhirnya manajemen mencoba mencari pelatih lain yang dianggap mampu membuat Chelsea berada dipuncak kejayan dan kandidat yang tercatat adalah Jorge Sampaoli serta Antonio Conte di musim panas lalu.

Akhirnya Conte dipilih untuk mengasuh para pemain Chelsea setelah ia mengasuh timnas Italia pada Euro 2016 dan di lain pihal Sampaoli menggantikan posisi Unai Emery di Sevilla. Dan ternyata kedua kandidat Chelsea itu melakukan pekerjaan yang memukau di klub masing-masing.

Saat ini Chelsea yang diasuh Conte, berada dipuncak klasemen sementara Liga Inggris sedangkan Sevilla yang diasuh Sampaoli berada diposisi kedua di Liga Spanyol, dimana saat ini jawara musim lalu berada ke posisi ketiga sementara dan timnya pun sempat mengalahkan Real Madrid yang berada diperingkat pertama klasemen dalam pertandingan di La Liga.

Ia pun menungkapkan bahwa dirinya hampir saja melatih Chelsea musim panas lalu. Ia membeberkan kepada El Transistor,  “Saya amat dekat dengan kemungkinan bergabung dengan Chelsea, namun kemudian muncul tawaran dari Sevilla. Saya bahkan tak mengenali Monchi di bandara. Saya turun dari pesawat dan saya tidak mengenal dia – dia datang dan menyambut saya ‘Halo, saya Monchi(Direktur Sepak bola dari Sevilla FC) ‘.”.

Namun Ia tak menyesal karena tak mengasuh Chelsea. Ia mengatakan kepada FFT, “Ada banyak tim yang tertarik, namun panggilan dari Monchi datang dan bagi kami itu menarik, kami juga membuka negosiasi dengan Chelsea. Seville adalah kota yang luar biasa, dengan banyak gairah sepakbola, dan ketika saya di stadion, nyanyian suporter, atmosfernya luar biasa,”.

Ia pun menambahkan: “Kami akan berjuang memenangkan liga dengan apa yang kami punya. Sebenarnya saya ingin kami finish di peringkat lima atau enam dan saya ingin membuat pemain perlahan bersaing di level yang lebih tinggi. Anda harus selalu punya impian, anda harus terus menemukan diri anda sendiri untuk bisa mempertahankan itu.”

Dua Kekalahan Ranieri Bukan Karena Pemain Andalannya Absen

claudio ranieri leicester city, claudio ranieri, leicester city, premier league, liga inggris
Claudio Ranieri – Leicester City

Sang jawara musim lalu yaitu Leicester City saat ini sedang berada diperingkat ke 15 dari daftar klasemen sementara Premier League untuk musim 2016 – 2017. Hal ini dikarenakan hingga pekan ke 22 Liga Inggris ini, mereka hanya mampu meraih lima kemenangan dan enam pertandingan dengan bermain imbang. Sementara sebelas laga sisanya diiisi oleh kekalahan.

Menariknya lagi dalam dua pertandingan terakhirnya, mereka mampu dikalahkan dengan telak oleh Southampton dipertandingan terakhir mereka pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2017  dan ditaklukan oleh Chelsea pada pertandingan sepekan sebelumnya pada tanggal 15 Januari 2017. Gawang The Foxes kebobolan sebanyak 3 kali dimasing masing pertandingan tanpa melakukan perlawanan sekalipun.

Namun sebagai pelatih Leicester yaitu Claudio Ranieri, memiliki alasan yang membuat kekalahan timnya seperti dapat dimaklumi. Kedua kekalahan tersebut bukan dikarenakan ada pemainnya yang cedera ataupun beberapa pemain andalan mereka seperti Riyad Mahrez, Islam Slimani dan Daniel Amartey yang harus dipanggil timnas masing masing untuk digunakan dalam ajang kompetisi Piala Afrika 2017.

Rinieri berdalih bahwa dua kekalahannya yang terjadi secara berturut- turut saat ini dikarenakan Ia telah mencoba menggunakan dua taktik yang berbeda dalam dua pertandingan yang berbeda. Ia mencoba menggunakan taktik 3-5-2 menghadapi Chelsea dan pola 4-3-1-2 saat menghadapi Southampton dan berharap hasilnya akan memuaskan.

Ia mengatakan “Saya rasa kekalahan dua pertandingan terakhir karena saya telah merubah formasi dengan harapan untuk membantu pemain saya bermain lebih baik dan menemukan solusi untuk selanjutnya. Namun mungkin saya melakukan kesalahan. Saya memainkan tiga pemain belakang melawan Chelsea,”.

Ranieri juga menjelaskan bahwa sepertinya masih sulit untuk mencoba hal yang baru terutama dalam mengejar poin. Dan Ia juga menyadari bahwa ada kemungkinan apa yang ia inginkan tak mampu di serap dengan baik oleh anak asuhnya dimana mereka sudah terbiasa dengan formasi 4-4-1-1.

Kemudian Ia pun menambahkan “Para pemain saya akrab dengan formasi 4-4-1-1 dan mengetahui posisi ini. Saya ingin memberikan sesuatu yang lebih, tapi justru menjadi kesalahan. Saya rasa lebih baik memberikan apa yang mereka sudah pahami,”.

Capai Target Atau Tidak, Guardiola Akan Dapat Kucuran Dana Musim Depan

pep guardiola mauricio pochettino, pep guardiola, mauricio pochettino, Tottenham hotspurs, manchester City, manchester City vs tottenham Hotspurs, premier league, liga inggris
Pep Guardiola – Mauricio Pochettino

Pelatih Tottenham Hotspurs yaitu Mauricio Pochettino mengharapkan para pendukung dari Manchester City untuk dapat memberikan sedikit waktu lagi kepada Josep Guardiola, selaku pelatih The Citizen. Hal ini dikarenakan strateginya dalam membawa timnya menuju puncak klasemen tak berhasil seperti saat awal musim kompetisi Premier League musim ini.

Guardiola sempat kecewa saat timnya diimbangi oleh Tottenham, dalam pertandingan Liga Inggris pada tanggal 22 Januari 2017 kemarin. Sempat unggul dua angka namun akhirnya mampu disamakan kedudukannya oleh pasukan Pochettino. Hal ini membuat mereka semakin menjauh untuk meraih puncak klasemen musim ini.

Pochettino mengungkapkan kepercayaannya terhadap Guardiola kepada Daily Star, “Saya yakin Pep akan meraih sukses, karena dia adalah salah satu yang terbaik. Sulit bagi saya untuk menilainya, masih terlalu dini. Dia amat emosional dan dia menunjukannya. Semua merasa frustrasi usai tim tertinggal dari Chelsea, dan dia juga.”

Ia menambahkan “Namun untuk membangun tim kuat dengan filosofi dan ide, anda membutuhkan waktu. Menangani Bayern dan Barcelona, tentu berbeda dengan Manchester City. Namun dia punya kualitas sebagai manajer top dan dia nantinya akan sukses di sini. Tidak mudah untuk mengatasi ekspektasi dan anda juga harus mengajarkan filosofi dan ide anda. Sulit untuk membandingkan dia dengan saya, karena ekspektasinya berbeda. Guardiola menangani tim usai memenangkan 21 trofi bersama Bayern dan Barca. Sementara saya datang dari Southampton.”

Namun sepertinya Guardiola akan mendapatkan kekuatan lagi dari manejemen City. Mereka akan menurunkan dana dengan jumlah besar untuk dapat merombak pasukannya pada bursa musim panas mendatang.

Memang sebelumnya diberitakan oleh The Mirror bahwa manta pelatih Barcelona itu sudah merencanakan perombakan besar-besaran pasukannya. Hal tersebut juga didukung oleh pemilik mereka yaitu Khaldoon Al Mubarak dan akan memberikan kucuran dana yang dibutuhkan untuk membentuk tim sesuai keinginan Guardiola.

Guardiola mendapat target minimal untuk mencapai peringkat empat besar pada akhir musim ini. Namun seandainya Ia gagal memenuhi target minimalnya, pelatih asal Spanyol itu sepertinya akan terus dipertahankan sesuai dengan masa bakti di kontraknya.